Selama ini banyak kalangan yang menganggap matematika sebagai ilmu yang sulit. Namun dalam pendidikan formal di lingkungan sekolah matematika sudah menjadi materi pokok yang penting untuk diajarkan. Bahkan, matematika dijadikan sebagai tolok ukur kelulusan siswa dengan diujikan dalam ujian nasional serta diajarkan di semua jenjang pendidikan dan jurusan. Sehingga, siswa “merasa” wajib menguasai ilmu matematika karena menjadi salah satu pintu kelulusan menuju jenjang sekolah lebih tinggi.
Akan tetapi, sebagian besar siswa menganggap matematika sebagai pelajaran yang sukar dan menakutkan, sehingga menjadi momok tersendiri bagi mereka. Padahal, matematika sangat berguna bagi semua orang dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pedagang, tukang kas, tukang parker, bahkan pengemis sekalipun  menggunakan matematika untuk menghitung penghasilan dari profesi mereka.
Selain itu, matematika merupakan kunci dari semua pelajaran sains, karena matematika merupakan dasar dari ilmu-ilmu lain, terutama ilmu yang berkutat dengan angka dan hitung-hitungan. Sehingga, belajar matematika secara tidak langsung juga membuka pintu bagi ilmu-ilmu eksak lainnya.
Permasalahannya sekarang adalah bagaimana cara belajar yang baik agar siswa tidak hanya mudah memahami matematika, tetapi juga mencintainya. Salah satu hal yang menjadi kendala untuk membuat agar matematika tidak lagi menjadi momok menakutkan bagi siswa terletak pada metode pembelajaran yang digunakan. Harus diakui, selama ini memang tidak mudah mengajarkan matematika kepada siswa. Perlu kesabaran dan kegigihan yang tinggi untuk memahamkan konsep-konsep matematika pada mereka.
Belum diterimanya matematika secara sukarela atau senang hati oleh siswa menjadi pekerjaan atau tugas khusus bagi guru sebagai pendidik di sekolah dan tugas bagi para orang tua di rumah. Berikut ini ada beberapa tips yang bias kita ikuti agar matematika tidak hanya mudah dipahami, namun juga dicintai oleh anak.

1.       Jangan Kesankan Matematika itu Sulit

Hindari mengatakan matematika itu sulit di depan anak. Persepsi akan memberi kesan mendalam pada memori bawah sadar manusia. Jika anda memberi sesuatu persepsi yang negatif, maka memori akan mengingatnya sebagai sesuatu yang negatif pula. Padahal, dalam belajar, memori otak memegang peranan sangat penting sebagai media pemahaman dan penalaran terhadap ilmu yang sedang dipelajari.
Persepsi yang negatif dalam belajar matematika sangat berbahaya, karena bisa mempengaruhi minat seseorang dalam mempelajarinya.
Jika yang tersimpan di dalam memori adalah sesuatu yang positif, maka otak akan menggunakan sesuatu yang positif itu untuk memecahkan masalah dalam ilmu matematika. Oleh karena itulah, penting bagi kita untuk menumbuhkan persepsi bahwa matematika itu mudah dan mengasyikkan, serta membuang jauh-jauh anggapan bahwa matematika itu sulit dan menjenuhkan.

2.       Gunakan Metode Belajar dan Alat peraga yang Menarik

Metode belajar yang inovatif dapat membuat siswa belajar matematika dengan mudah dan menyenangkan. Ditambah dengan bantuan alat peraga, siswa menjadi senang serta jauh dari kebosanan.
Kunci suatu pelajaran agar mudah diterima siswa adalah bagaimana pelajaran tersebut bisa menyenangkan siswa. Dan, itu semua bisa dicapai salah satunya melalui penggunaan alat peraga sehingga pembelajaran akan lebih variatif dan menyenangkan.

3.       Jadilah Guru Matematika yang Menyenangkan

Seorang guru matematika harus menjadi guru yang menyenangkan agar siswa merasa nyaman dengan kondisi pengajaran dan tertarik untuk mengikuti pelajaran.
Mengajar matematika sebenarnya bukan sekedar membuat siswa mengenal angka dan menghafal rumus, tetapi juga berusaha bagaimana membuat mereka memahami makna matematika. Berikut ada tips-tips mengajar matematika yang menyenangkan, sebagaimana dikemukakan oleh Gisele Glosser*.

a.       Berpikir kritis dan usaha jujur lebih penting daripada jawaban yang benar.

Cobalah untuk tidak mengerutkan kening ketika siswa memberikan jawaban yang salah atau keliru. Mengerutkan kening sering kali ditafsirkan sebagai bahasa isyarat penolakan yang dapat menghambat siswa untuk berpartisipasi dalam mengekspresikan pemikiran mereka.

b.      Tidak ada pengajaran tanpa pengendalian

Lebih baik anda bersusah payah pada hari-hari awal masuk sekolah untuk menemukan cara-cara terbaik dalam mengelola kelas dan mendisiplinkan siswa, daripada Anda harus melakukan perjuangan berat sepanjang semester karena Anda tidak berhasil menemukan cara yang paling efektif dalam pengelolaan kelas.

c.       Kadang- kadang, hal terbaik untuk dilakukan adalah berhenti berbicara

Jika terjadi kebisingan di kelas, Anda tidak perlu berteriak-teriak meminta para siswa agar berhenti gaduh. Cobalah Anda berdiri di depan kelas dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kemudian tataplah mereka (khususnya siswa yang menjadi sumber keributan) dengan tetap tanpa menunjukkan ekspresi marah.

d.      Cobalah lakukan kegiatan yang bervariasi dari waktu-waktu

Dalam proses pembelajaran, rutinitas dan terstruktur memang hal yang baik. Tetapi, apabila hal ini terlalu banyak dilakukan, maka bisa menyebabkan Anda jatuh terjerembab ke dalam suatu kebiasaan yang membosankan.

e.      Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif

Berilah kesempatan kepada siswa untuk tampil di depan kelas atau mempersilahkan mereka bekerja dalam kelompok. Sedapat mungkin hindari pembelajaran yang berpusat pada guru untuk sepanjang tahun.

f.        Cobalah untuk bersikap fleksibel

Misalnya, pada saat berlangsung proses pembelajaran di kelas, Anda memiliki aturan ketat terhadap siswa tentang permen. Tetapi, mungkin Anda dapat mengizinkan siswa untuk memakan permen tersebut ketika siswa sedang menghadapi ulangan.

g.       Cobalah uraikan secara jelas topik-topik apa yang akan diujikan

Anda tidak hanya cukup dengan mengatakan dan menyuruh siswa, “Minggu depan kita adakan ulangan, silahkan pelajari Bab 6!” perintah dan penugasan semacam itu akan dirasa membingungkan, terutama bagi siswa yang kurang memiliki ketrampilan belajar.

h.      Gunakan teknik “Front Loading

Para siswa cenderung lebih termotivasi untuk belajar pada awal masuk sekolah. Pada awal masuk sekolah, selain diajak meninjau kembali materi pada semester sebelumnya, secara garis besar siswa juga mesti diajak untuk mengenal topik-topik yang hendak mereka pelajari selama satu semester ke depan.

i.        Berikan penghargaan atas setiap hasil dan usaha belajar mereka

Penghargaan yang Anda berikan akan memberikan motivasi kepada para siswa untuk mengerjakan sesuatu lebih baik lagi.

j.        Lakukan yang terbaik dari diri anda dan bersikap adillah kepada seluruh siswa

Jika hal itu sudah Anda lakukan, Anda akan mendapatkan rasa hormat dari para siswa. Krisis kepercayaan kepada guru sering kali bersumber dari ketidaksanggupan untuk menampilkan yang terbaik kepada siswanya.

k.       Motivator terbaik adalah menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata

Jangan lepaskan pembelajaran dari dunia nyata siswa. Belajarkanlah mereka akan hal-hal yang berhubungan dan menyentuh langsung kehidupan mereka.

*Disarikan dari mathgoodies.com dalam artikel berjudul “Tips for New Math Teachers”

4.       Bimbinglah Selalu

Belajar matematika tidak hanya menghafal sekumpulan rumus, tetapi lebih dari itu, yakni bagaimana memahami rumus-rumus tersebut untuk diaplikasikan ke dalam bentuk lain yang lebih luas.
Siswa perlu mendapat bimbingan agar mereka tidak kebingungan dan lebih mudah dalam menangkap setiap materi yang diberikan. Kehadiran anda, baik ketika mereka menemui kesulitan maupun tidak, sangat berguna bagi mereka. Ketika mereka menemui kesulitan, berikan solusi kepada mereka. Sebaliknya, ketika mereka berhasil menyelesaikan soal dengan baik, berikan apresiasi kepada mereka.
Penggunaan matematika memang sangat dekat dengan aspek kehidupan. Sehingga apabila ada siswa yang mengatakan ingin menghindari matematika , sebenarnya itu tidak dapat dilakukan. Sebab, mau tidak mau, tampa disadari, matematika digunakan dalam aktivitas sehari-hari mereka, meskipun dalam bilangan dan operasi yang sangat sederhana. Misalnya, untuk menghitung uang saku, menghitung uang SPP dari pemberian orang tua, menghitung uang untuk membeli sesuatu, dan sebagainya.
Secara logika, tidaklah masuk akal jika sesuatu yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari justru menjadi hal yang tidak disukai. Oleh karena itu, baik siswa, guru, maupun orang tua, harus memiliki pemahaman yang tepat terhadap matematika.
Yaniawati (2006) merumuskan setidaknya ada lima tujuan umum pembelajaran matematika, yakni belajar untuk berkomunikasi (mathematical communication), belajar untuk bernalar (mathematical reasoning), belajar untuk memecahkan masalah (mathematical  problem solving), belajar untuk mengaitkan ide (mathematical connections), dan pembentukan sikap positif terhadap matematika (positive attitudes toward mathematics). Kesemuanya itu lazim disebut dengan mathematical power (daya matematika).
 Dengan penguasaan yang baik terhadap matematika siswa tidak hanya cerdas dalam pelajaran, tetapi juga dapat meningkatkan logika berpikir yang analitis, logis, dan sistematis, membantu pemecahan masalah, serta membangun kepercayaan diri generasi muda.
(Sumber: Raodatul Jannah dalam buku yang berjudul “Membuat Anak Cinta Matematika dan Eksak Lainnya”)