Guru…
Dahulu seorang guru adalah orang tunggal yang menguasai kelas dan proses pembelajaran. Namun, sistem pendidikan sekarang tidak membenarkan itu. Sekarang guru tidak berperan sentral dalam pembelajaran, melainkan siswa juga diharapkan dapat berperan aktif dalam pembelajaran dikelas. Guru bukanlah sebagai sumber ilmu tunggal bagi siswa, pendidikan sekarang menempatkan guru sebagai fasilitator bagi siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Banyak cara yang dilakukan para guru untuk dapat merealisasikan hal itu, mulai dari mengganti metode pembelajaran yang mengharuskan siswa lebih aktif hingga menggunakan media pembelajaran berbasis ICT.
Banyak upaya yang dilakukan oleh guru untuk membuat para siswa lebih aktif dalam pembelajaran sehingga pelajaran yang didapat bisa lebih berkesan. Hal ini pasti dilakukan dengan harapan agar lulusan yang dihasilkan adalah pribadi-pribadi yang baik, tangguh dan mampu bersaing dalam dunia kerja nantinya. Di Indonesia terdapat beberapa jenis guru. Saya setuju dengan 2 jenis guru yang dituliskan bapak RHENALD KASALI di majalah HADILA. Dua jenis guru tersebut adalah guru kognitif dan guru kreatif.

Guru Kognitif
Guru kognitif sangat berpengetahuan. Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan.
Guru kognitif hanya mengajar dengan mulutnya, berbicara panjang lebar dengan siswa dengan menggunakan alat tulis. Guru ini biasanya sangat bangga dengan murid yang mendapat nilai tinggi, disiplin belajar, penampilan rapi, dan hafal semua yang dia ajarkan. Bagi guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia (brain memory). Asumsinya, semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin pintar orang itu, sehingga memiliki masa depan yang lebih baik.
Guru kognitif sering disebut juga sebagai guru kurikulum. Kalau di silabus tertulis bab yang diajarkan adalah bab 1 s.d 12, mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.
Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi siswa-siswa yang lolos ke kampus-kampus favorit dan peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif, sulit menemukan “pintu” bagi masa depannya. Anak-anak ini tidak terlatih menembus barikade masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis dan kaya persaingan.

Guru Kreatif
Guru kreatif lebih banyak tersenyum, tangan dan badannya bergerak aktif. Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga apa saja. Mereka bukan sibuk mengisi kepala siswa dengan rumus, melainkan membongkar siswa didik itu dari segala belenggu yang mengikat.
Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan hanya soft skills, apalagi hard skills.
Berbeda dengan guru kognitif yang tak punya waktu berbicara tentang kehidupan, mereka justru bercerita tentang kehidupan yang didiami anak didik. Mereka aktif menggunakan segala macam alat peraga. Bagi mereka, memori tidak hanya ada di kepala, tapi juga ada di seluruh tubuh. Memori ini dalam biologi dikenal sebagai myelin (lokomotif penggerak), dalam ilmu manajemen myelin adalah faktor vital pembentuk harta tak kelihatan seperti gestures, bahasa tubuh, kepercayaan, empati, keterampilan, disiplin, dst.
Guru kreatif tidak mencetak juara olimpiade Matematika atau Fisika, tetapi mereka mampu membuat generasi muda menjadi inovator, entrepreneur dan CEO besar. Mereka kreatif dan membukakan jalan menuju masa depan.

Guru Kognitif atau Guru Kreatif?
Pilihan ada pada diri anda bapak ibu guru yang terhormat, mungkin beberapa dari anda kurang setuju dengan pengelompokan guru diatas. Saya tidak bermaksud untuk menggurui anda semua, karena jelas ilmu saya masih sangat jauh dari bapak ibu guru semua. Tulisan ini, sebenarnya untuk mencambuk diri saya sendiri agar dapat lebih baik lagi dalam menjalankan amanah yang diberikan kepada saya. Saya sadar kesempurnaan sangat jauh dari saya, tetapi keinginan untuk lebih baik lagi semoga bisa menjadi cara untuk mengabdikan diri kepada negara, lewat siswa-siswa saya.
Semangat untuk semua bapak ibu guru di Indonesia, lewat tangan anda semua generasi muda Indonesia dipersiapkan. Terima kasih kepada para pahlawan tanpa tanda jasa…