BATIK WONOGIREN

 

Batik Wonogiren, begitulah sebutan khas untuk motif batik hasil kreasi masyarakat Wonogiri. Pada awalnya batik ini muncul dari kegiatan membatik masyarakat di daerah Tirtomoyo. Keinginan masyarakat wonogiri untuk memproduksi dan menggunakan batik dengan motif khas daerahnya menjadikan batik wonogiren mulai dikenal luas. Tidak hanya beredar di Wonogiri tetapi batik Wonogiren juga telah tersebar di luar daerah terutama di Surakarta, Jakarta serta daerah luar Jawa, diantaranya Lampung, Jambi bahkan Malaysia.

Batik Wonogiren memiliki ciri khas motif retakan atau remukan yang juga menjadi bagian dari batik Wonogiren. Hal tersebut lah yang membedakan Batik Wonogiren dengan batik-batik daerah lain. Selain itu garis, bentuk dan warna batik yang berbeda sehingga menambah nilai keindahan Batik Wonogiren.

Motif batik Wonogiren terinspirasi dari kondisi geografif, sosial, fenomena dan selera masyarakat serta modifikasi pola Batik Klasik Kraton Surakarta. Motif-motif Batik juga terpengaruh oleh tren yang ada di masyarakat, misalnya tren koleksi tanaman Anthurium jenis Jemani di tahun 2007 lalu, hal ini menjadi inspirasi para pengrajin sehingga terciptalah Batik Motif Jemani. Selain itu kondisi lingkungan hutan juga menjadi inspirasi munculnya Motif Batik Gelondong Kayu dan Serat Kayu.

Peran aktif para pengrajin yang akan membuat kain batik kembali berjaya dan dikenal luas bahkan sampai luar negeri patut di apresiasi. Selain itu peran kita sebagai generasi penerus bangsa juga sangat diperlukan untuk melestarikan kain batik, caranya adalah dengan tetap mencintai batik sebagai salah satu karya anak bangsa, dengan bangga memperkenalkan budaya kita ke dunia luar dan selalu menggunakan produk anak bangsa. Sehingga budaya Indonesia khususnya Batik dapat dihargai di dunia Internasional.