Keaktifan Belajar Siswa

Pendidikan tradisional sebenarnya belum hilang dari dunia pendidikan kita, utamanya dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru menjelaskan materi secara mendetail, sedangkan para siswa hanya mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru. Kegiatan mandiri dianggap tidak ada maknanya karena guru adalah orang yang serba tahu dan menentukan segala hal yang dianggap penting untuk siswa. Cara penyampaian materi lebih mudah pelaksanaannya bagi guru dan tidak ada masalah maupun kesulitan. Guru cukup mempelajari materi dari buku, lalu disampaikan kepada siswa. Di sisi lain, siswa hanya bertugas menerima dan mendengarkan materi yang disampaikan guru, mereka diam dan bersikap pasif.

Namun dengan adanya berbagai temuan dan pendapat, menyebabkan pandangan terhadap siswa berubah. Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif (Hisyam Zaini dkk, 2008: xiv). Dengan belajar aktif, kegiatan pembelajaran akan lebih berpusat kepada siswa yang dapat mempengaruhi keaktifan belajar siswa. Siswa yang cenderung diam akan terpancing untuk bergerak. Pembelajaran ini tidak hanya melibatkan mental siswa, akan tetapi juga melibatkan fisik siswa.

Menurut Usman (2006: 22) keterlibatan anak secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan agar belajar menjadi efektif dan dapat mencapai hasil yang diinginkan. Untuk itu hendaknya guru berusaha menciptakan kondisi ini sebaik-baiknya dengan berbagai cara yang telah dikemukakan terdahulu.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keaktifan belajar adalah aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar yang melibatkan kemampuan emosional. Keaktifan belajar siswa meliputi aktif memperhatikan penjelasan guru di kelas, bekerjasama dengan teman lain saat berdiskusi, menjawab pertanyaan yang diberikan guru, bertanya terhadap materi yang belum dipahami, mengerjakan latihan soal, dan mengerjakan soal di depan kelas dan mengkomunikasikan jawaban kepada temannya pada waktu pembelajaran.

About these ads